“Karma”, so they said

Surah 42, Verse 30:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Translation:
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Beberapa minggu yang lalu baca ayat ini dari FB temen.. Jadi lebih menyadari kalau semua yang terjadi adalah kehendak Allah, dan pasti merupakan yang terbaik.. Ketika kita tertimpa musibah, atau ada satu dan lain hal yang kita rasa tidak sesuai dengan keinginan, seharusnya kita berfikir/merenung apa alasan Allah memberikan cobaan tersebut.. Nggak selalu kita bsa menyadarinya, namun hendaknya kita tetap beristogfar dan memohon ampun..

Kalo kata orang2 sih disebutnya karma ya?

Advertisements

Cinta Sejati..

Fuahhh, sudah lama nggak nge-post di blog ini.. Terakhir hampir 3 minggu yang lalu, target minimal 1 post per minggu sudah dilanggar -___- mari mulai lagi ngepost di blog..

Buat yang baca post ini karena judul post ini “Cinta Sejati..”, itu adalah judul random yang dibuat catchy dan bikin orang penasaran supaya mau buka postingan ini. muahaha.. seperti taktiknya situs-situs berita online yang promosi via twitter, kadang headline nya terkesan piyee gitu, pas dibuka beritanya ternyata mengecewakan… Hahaha.. Jadi, untuk yang ke sini karena baca judul di atas berarti gw sukses menipu kalian.haha.. Kalo ngga ada yang baca juga tulisan ini berarti….

Hahaha… Hemm, nulis soal apa ya.. Hot issue nya sih kemarin kita baru saja melewati hari raya qurban atau hari raya idul adha.. Apa sih pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut? Mungkin sejak SD kita sudah diceritakan kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, tapi apa sih maknanya?? Apa takeaway nya?

Saat hari raya, banyak ucapan-ucapan datang dari teman-teman, kerabat, dll.. selamat idul adha! ada yang minta maaf lahir batin *lhoh*, ada yang bilang selamat makan sate, ada yang bilang hari kolesterol, macem-macem lah pokoknya.. tapi salah satu teman selain mengucapkan selamat juga mengingatkan,

Semoga kita bisa mencontoh nabi Ibrahim, yang bisa mengorbankan apa yang ia cintai untuk Allah 🙂

Mengorbankan apa yang ia cintai untuk Allah.. Berat banget ya bacanya.. Kalau dulu bentuknya adalah perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya sendiri, zaman sekarang bentuknya mungkin sedikit berbeda dan tidak “seekstrim” itu lah.. bisa dibayangkan dong kalau sekarang turun perintah seperti itu akan heboh dan geger orang-orang.. menganggap gila, ngga waras, dst.. Tapi coba kita renungi tingkat kesolehan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang begitu dan ridha dan ikhlas kepada agamanya.. Mereka ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepadanya.. Subhanallah..

Kalau zaman sekarang bentuknya seperti apa?.. Mengorbankan apa yang dicintai untuk Allah bisa berbentuk berbagai macam hal.. Disaat mungkin hati kita masih mempertanyakan/belum yakin sepenuhnya ketika menjalankan perintah / menjauhi larangan Allah. Namun ketika kita sudah ikhlas dan ridha kepada Allah, seharusnya alasan “demi mencapai ridha Allah” sudah cukup, bukan? Semuanya butuh proses, dan itu sungguh normal, nggak apa-apa banget kok.. Teruslah belajar, mohon ampun, dan berdoa kepada Allah..

Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolonglah dan mudahkanlah).