Sebuah Wawancara dengan Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia

Salam Perspektif Baru,

Saya senang kita kembali bertemu setiap pekan dengan menampilkan sisi-sisi lain dalam kehidupan kita dalam bentuk orang-orang yang hidupnya bisa kita jadikan contoh. Saya sangat beruntung dengan kehadiran Handry Satriago yang saya kenal dalam kapasitas yang agak pribadi di suatu sekolah manajemen. Saat itu dia sedang bekerja sebagai eksekutif muda di perusahaan multinasional. Setelah sekian lama tidak pernah bertemu, beberapa waktu lalu saya bertemu lagi dengan dia yang kini bekerja di General Electric (GE), salah satu perusahaan terbesar di dunia. Dia menjabat sebagai Presiden Direktur.

Hendry Santiago mengatakan daya saing suatu negara ditentukan oleh kemampuan perusahaan lokal negara tersebut, selain mikro ekonomi dan lainnya. Kemampuan perusahaan lokal untuk menjadi besar dan mereka bisa menjadi besar kalau ada keterlibatan perusahaan besar juga seperti perusahaan multinasional. Handry member contoh, kalau ia membuat pabrik di Indonesia maka ia membutuhkan pemasok di Indonesia. Kriterianya tentu akan world class, sehingga ini akan memancing perusahaan-perusahaan lokal untuk memproduksi barangnya sampai ke level tersebut.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Handry Satriago.

Setiap orang mempunyai jalan kesuksesannya sendiri. Apa yang menjadi motivasi Anda karena saya mendengar Anda banyak berbicara mengenai motivasi dan Anda mengikuti program manajemen sambil bekerja dan juga sekolah sampai tingkat yang tertinggi. So, what is the driving force?

Sejak kecil saya merasa sebagai seseorang yang suka melawan. Saya suka kalau sesuatu bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda dan saya selalu ingin melihat dari sudut yang berbeda. Kalau waktu kecil orang punya cita-cita pilot, insinyur atau dokter, saya ingin menjadi asisten apoteker, tapi bukan apotekernya. Pekerjaan itu menarik karena saya pikir keren, ilmiah dan berbeda. Kalau dulu sudah ada penyiar radio, mungkin saya ingin menjadi penyiar radio. Tapi I like seeing it from a different angle of commonality yang ada.

Kemudian ketika berumur 17 saya harus memakai kursi roda karena sakit yang saya alami. Proses itu juga terjadi. Saya mencoba untuk melawan, yang menurut saya umum, sehingga saya bisa balik lagi. Begitu juga ketika bekerja, saya mencoba untuk tidak mengikuti arus yang ada. Ini menimbulkan passion saya untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ketika General Electric (GE) memberikan kesempatan pada saya untuk memimpin perusahaan ini di Indonesia sebagai Chief Executive Officer (CEO), perlawanan itu pulalah yang hadir. Saya melihat selama ini GE lebih banyak hanya menjadi equipment supplier di Indonesia. Which is a good thing to do, actually. Amanrisikonya kurang. Kita tetap mendapat profit dan salesyang baik. Kemudian pertanyaan selanjutnya, mengapa perlu orang Indonesia untuk memimpin perusahaan yang beroperasi di Indonesia?

Apakah CEO di GE Indonesia juga sebelumnya adalah orang Indonesia?

Dari dulu kita selalu punya ekspatriat di Indonesia. Sembilan bulan sebelum saya ada David Utama, orang Indonesia yang pindah ke Singapura.

Berapa lama Anda telah bekerja sebagai CEO di GE?

Sekitar enam bulan.

Selain perubahan orang, apa ada perubahan lain?

Sekarang dengan bangga saya bisa mengatakan GE adalah perusahaan asing yang dijalankan 100% oleh orang Indonesia. Hampir seluruh pemimpin bisnisnya adalah orang Indonesia. Kedua, visi kita beranjak dari hanyaequipment supplier menjadi business partner. Jadi kalau ada orang menanyakan apa yang saya kerjakan di GE, saya harus menjual produk GE sebanyak mungkin ke Indonesia. Tapi pada saat yang bersamaan, saya juga harus dapat ’menjual’ Indonesia ke GE. Antara lain, membuat GE mau berinvestasi di Indonesia, membuat GE mau berkontribusi banyak kepada masyarakat, dan berbuat sesuatu kepada Indonesia. Kalau tidak, kita orang Indonesia tidak akan ada gunanya bekerja di perusahaan multinasional.

Bagi orang yang tidak pernah dekat dengan perusahaan multinasional apalagi tidak pernah bekerja, sering punya anggapan bahwa kalau kita bekerja di perusahaan asing maka ke-Indonesia-annya kurang. Apa respon Anda terhadap hal tersebut?

Itu biasanya permikiran yang selalu ada dari zaman dulu. Sekarang untuk bisa sukses di pasar lokal Indonesia dan juga di beberapa negara lain, strateginya harus berdasarkan pada apa yang disebut institusi. Company to country. Whether you are able to give a contribution to that country. Kalau negaranya tumbuh maka kita baru bisa mempunyai kesempatan tumbuh lebih besar. Sebaliknya, tidak ada gunanya untuk berperilaku seperti VOC dulu.

Apakah dalam perjalanan ini Anda merasa dibenarkan, atau apakah Anda menganggap suatu saat perusahaan asing tidak boleh ada di Indonesia?

Saya punya pendapat berbeda dalam hal ini. Daya saing suatu negara ditentukan oleh kemampuan perusahaan lokal negara tersebut, selain mikro ekonomi dan lainnya. Kemampuan perusahaan lokal untuk menjadi besar dan mereka bisa menjadi besar kalau ada keterlibatan perusahaan besar juga. Sebagai contoh, kalau saya membuat pabrik di Indonesia maka saya membutuhkan pemasok di Indonesia. Kriteria saya tentu akan world classdan ini akan memancing perusahaan-perusahaan lokal untuk memproduksi barangnya sampai ke level tersebut. Sebaliknya, perusahaan ini akan happydengan standar yang mereka punya. So the higher the demand we have, the more companies yang ada di Indonesia akan mencapai level yang kita inginkan tadi.

Apa produk utama di GE?

Di Indonesia kita fokus pada empat hal. Aviation (penerbangan) yaitu kita menjual mesin pesawat dan juga ada air lavishing. Kemudian kita fokus ke transportasi yaitu lokomotif. Di sini menarik karena lokomotif yang dipakai dari sebelum 1950-an hampir 70% GE yang memasoknya dan kita mengembangkannya bersama PT Industri Kereta Api (INKA). Proses pembelajarannya bersama-sama, tidak hanya GE memberikan edukasi teknik kepada teman-teman di sini, tetapi kita tumbuh bersama. Yang ketiga adalah business health care, yaitu peralatan kesehatan. Yang menarik adalah, ini peralatan-peralatan domestic imaging seperti ultra sound, x-ray, CT scan. Lalu yang ke empat adalah energi, seperti pembangkit tenaga listrik, minyak, dan gas.

Bagaimana dengan consumer good dan itu termasuk golongan mana?

Kalau consumer good seperti lampu dan kulkas di GE termasuk sebagaihome and business solution. Tapi kalau ditanya fokus besar kita sekarang adalah ke empat hal tadi. Namun kita tetap memiliki home and business solutions.

Jadi market Anda adalah pasar industri, betulkah?

Kebanyakan adalah pasar industri.

Saya pribadi terus terang ingin bekerja di perusahaan multinasional tapi takut juga karena pasti sangat kompetitif, disiplin dan sebagainya. Katanya, Anda suka melawan, tapi mengapa Anda bisa bekerja di perusahaan yang pasti mempunyai disiplin ketat?

Bisnis punya dua hal. Pertama, dia harus terus tumbuh. Pertumbuhan itu menjadi mesin untuk membesarkan perusahaan secara maksimum. Begitu dia berhenti, dia akan mengalami masalah. Jadi perusahaan harus tetap tumbuh. Kedua, ada proses yang kita sebut kontrol. Jangan sampai kita melanggar integritas dan compliance. Nah berkiprah di dua area ini ada seninya sehingga kita bisa menemukan leader yang sukses, leader yang masuk penjara, atau leader yang perusahaannya tidak berkembang sama sekali. Saya melihat konteksnya begini, kita harus bicara kedua-duanya secara sekaligus. But you need to think out of the box untuk bisa sampai ke posisi yang berkembang maksimum.. Kalau hanya berada pada koridor yang ditentukan, misalnya, kita tidak punya bisnis pembangkit listrik tenaga uap yang kompetitif, maka jawaban yang aman adalah di koridor itu seharusnya kita tidak berbisnis. Namun kalau kita melihat ternyata Indonesia banyak sekali memiliki batu bara, dan salah satu cara untuk kita hidup dan berkembang di pasar pembangkit listrik Indonesia adalah terlibat dalamcoal fire power plant. Nah, untuk bisa memakai batu bara, ternyata ada banyak lagi teknologinya. Kita bisa diversikasi batu bara tersebut, kita bisa ambil gas dari batu bara itu. Jadi ada banyak upaya kalau kita start thinking out of the box.

Satu hal yang saya suka pikir, kalau kita bekerja di pasar industri di Indonesia kita mempunyai budaya bisnis yang sangat tidak sesuai dengan batasan Amerika mengenai force and corrupt practices. Istilahnya, di Amerika orang tidak boleh bekerja sama dengan orang yang korupsi, sedangkan di Indonesia justru kalau ingin maju maka bekerja samalah dengan orang yang korupsi. Bagaimana Anda bisa menghindari masalah itu, apalagi bicara mengenai batu bara dan sebagainya?

Bagi kita, no room for integrity or compliance valuation. Seringkali saya bilang kepada teman-teman di commercial – sales team yaitu, bahwa mungkin mereka adalah sales team terbaik yang pernah ada. Itu karena mereka harus menjual barang-barang di pasar yang memang tidak seluruhnya kondusif. Contohnya, Anda ingin membeli pembangkit tenaga listrik tapi belum tentu Anda bisa mendapatkan barang itu keesokan harinya. Karena kita harus melakukan due diligence terlebih dahulu. Misalnya, uangnya dari mana, mengapa membeli pembangkit tenaga listrik dan untuk apa. Kita memilih untuk tidak menjualnya kalau praktek-praktek yang ada membuat kita berada pada kondisi untuk integrity valuation. Jadi,we have just to be there. Kita pelari marathon yang tangguh. Kita educate, kita mengalami masalah, kita gagal, kita kehilangan kontrak, maju lagi, jualan lagi, educate lagi.

Namun barang jualannya tetap the best, sangat bagus karena bisa memicu orang untuk good practices. Bagi saya, kalau ada perusahaan memakai barang GE maka itu semacam stamp of approval. Apakah saya boleh atau tidak melihatnya seperti itu? Jadi you would not sell your things to corrupt outfit. Apakah Anda yakin prinsip itu bisa tetap dipertahankan?

Umur GE sudah 130 tahun, dan sekarang suda ada di lebih seratus negara di seluruh dunia. Di setiap negara pasti mempunyai isu yang sama. And we survive. That’s why we believe, being comply and have the integrity tidak akan mematikan kita.

Jadi petuah-petuah klise orang tua dulu benar juga, sepertihonesty is the best policy. Soal karma juga, kalau kita berbuat baik maka kita akan mendapatkan yang baik juga, betulkah?

Itu membuat kita capai, berdarah-darah, dan sering kali harus kalah. But that’s just the spirit you have to have.

Tapi rekan-rekan Anda di Amerika, karena GE dari Amerika, realistis dan mengetahui kondisi Indonesia seperti apa. Anda juga bisa memberikan gambaran pada mereka bahwa di Indonesia adagood guys dan ada bad guys. Dengan begitu saya kira pembicaraan ini sangat penting untuk diikuti oleh orang-orang.Which brings me to the next question, apakah Anda manfaatkan juga pengalaman ini untuk di sekolah bisnis atau asosiasi pemuda atau dimana saja? Do you socialize your view?

Ya, sepanjang ada waktunya dan cocok dengan agenda saya maka undangan apa pun silakan saja.

Ternyata Anda dulu pernah bekerja di perusahaan lokal, dan sekarang sampai di puncak karier di perusahaan asing. Pertanyaan yang muncul adalah apa perbedaan lokal dengan perusahaan multinasional?

Bagi saya, learning. Waktu saya bekerja di perusahaan lokal dulu, passionuntuk menang, passion untuk mendapatkan proyek dan sebagainya tentu tidak jauh berbeda. Mereka mungkin bekerja dengan sebaik dan efisien juga. Perbandingan utamanya, the multinational company, especially the company where I work now adalah menekankan betul pada konsep learning.Jadi kita sangat bangga mengatakan bahwa kita adalah learning company. We don’t like status quo, because everytime you are in status quo that’s the most dangerous zone. Nah teman-teman yang ada di tempat perusahaan lokal yang sering saya rasakan adalah, you are in the comfort zone sehingga seringkali tidak berpikir lagi.

Penting sekali, comfort zone memang kita cari, tapi kalau sudah dapat jangan terlalu kita nikmati, betulkah?

Teorinya malah lebih dramatis, yaitu tempat terbaik ntuk perusahaan dan individu untuk berkembang adalah if you are in the edge of chaos.

Bukankah untuk mempunyai pertumbuhan yang stabil maka orang harus punya comfort zone juga?

Betul, orang harus punya dasar yang kuat.

sumber: http://www.perspektifbaru.com/wawancara/784

Advertisements

3 thoughts on “Sebuah Wawancara dengan Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia

  1. Cool.

    Tidak menilai adanya keterbatasan, baik secara diri maupun perusahaan.
    Excellent Leader, semoga kawan saya yang satu ini punya value yang lebih dari dia.
    Haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s